 | kesha wrote on Nov 4, '05 artikelnya emang benar sekali loh mas Zulfikar, banyak sistem yg salah.
Saya beberapa kali pernah ikut2an mudik ke rumah mertua di Jawa Tengah pada saat Lebaran, tau persis kelakuan supir2 bus yang kejar setoran, banyak juga diantaranya bus PPD yg di pakai untuk keluar kota oleh pemerintah. Supir2 itu tidak ada istirahat sama sekali! Nonstop Jakarta - Jateng - Jakarta, 48 jam dijalan. Banyak juga yg mengkonsumsi obat2an dan narkotik.
Pada saat terjadi kemacetan sedikit saja, akan terjadi sampai berkilo2 meter, di sebabkan oleh karena sang supir pada waktu terkena macet, tertidur, shg tidak tahu kalau mobil yg di depannya sudah jalan, Polisi yg sibuk, naik motor kesana kemari membangunkan supir yg tertidur itu, soalnya yg tertidur bukan 1 bus aja, bisa ada beberapa, dan mobil yg di belakang bus tertidur itu, tidak tau kalo didepannya sudah lancar, karena tertutup bus yg besar... ck..ck.. yg terpikir saat itu... apa yg harus dilakukan si Polisi yg melihat keadaan supir yg semestinya sudah tidak layak mengendarai? Ternyata dibangunkan dan disuruh jalan lagi....
Kemacetan parah disepanjang Pantura yg biasa terjadi saat lebaran hanya karena hal supir tertidur.
|
 | robym wrote on Nov 4, '05 saya pikir ini langkah penting adanya tulisan rutin soal iptek dari orang yang memang ahlinya. dan juga tentu berguna bagi karir anda :)
usul: karena bakal rutin menulis. mungkin argumennnya jadi lebih jelas dan menarik jika ada contoh spesifik atau "data". misalnya diterangkan secara detail kenapa supir mengantuk bukan human error, diuraikan kenapa solusi di level individu tak akan memecahkan masalah dan solusi di level makro lebih tepat. argumennya dibangun. akan membantu kejelasan artikelnya, nggak semua orang mudah memahami konsep2 abstrak (atau jargon) seperti 'sistem sosioteknologis'. |
 | Iya, perlu penjelasan lagi..:). Tapi mungkin karena batas maksimal kolom aja sehingga belum disentuh. Selamat jadi "muka" berita iptek bang...:) |
 | Congrats for the article. Pak Sulfikar, kenapa yaa kalau Ari baca tulisan bapak, baik di email sekalipun, kok suka lamaaa nangkepnya. Ngga langsung nge-klik maksudnya apa.
Pak Sulfikar itu mengingatkan Ari dengan guru Fisika di SMA. Orangnya pinter banget, tapi Ari ampuuun deh kalau diterang'in sama beliau. Mungkin garis orbital pemahaman kita beda kali ya... :)
Rie- |
 | jadi lebih jelas dan menarik jika ada contoh spesifik atau "data"  |
 | saya jadi inget kutipan dari kata2 bung karno di sebuah buku (maaf lupa judulnya, sementara bukunya sudah disimpan di jkt): bahwa teknologi yg diajarkan di sekolah tingginya dulu itu adalah lebih utk kepentingan kolonial. jadi yg dipentingkan adalah pembangunan jalan2 dan jembatan2 utk mempermudah pengangkutan hasil bumi (ke luar pulau & luar negri), misalkan, bukannya teknologi pengembangan pertanian rakyat. i wonder.. apakah pengembangan teknologi skg sudah lebih memihak ke kepentingan rakyat mayoritas? |
 | robym wrote on Nov 5, '05 Kegagalan teknologi merubah sistem sosial-budaya bukan hanya terjadi di negara terbelakang seperti Indonesia. Amerika adalah negara terkaya dan memiliki sistem teknologi tercanggih di dunia, tapi tetap Amerika berada di urutan ke 29 untuk life expectancy dan urutan ke 38 untuk infant mortality. Teknologi (dalam contoh disini teknologi kedokteran) tidak bisa membuat segalanya lebih baik. |
 | robym wrote on Nov 5, '05 bisa jadi karena 60% pengembangan iptek di amerika dialokasikan buat kepentingan militer.  sepertinya ini lebih sbg contoh nyata kegagalan pemikiran 'technological determinism': teknologi nggak otomatis membawa ke perubahan sosial yang diinginkan. |
 | Jadi mengingatkan saya pada supir2 taksi ngaco di new york city, human error atau sistim error? pokoknya naek taksi di new york itu penuh error. Kemaren aja baby non dot hampir kesermepet taksi , taksi seenaknya maju padahal baby non dot masih belum keluar dari taksi! Bandingkan dengan kenyamanan naek kereta subway di new york :) |
 | tergantung definisi kepentingan rakyat mayoritas
saya nyoba ambil contoh yg gampang dulu: kepemilikan mobil pribadi. berapa persen jumlahnya dibandingkan pengguna kendaraan umum, terutama di kota2 padat penduduk? seharusnya kan infrastruktur transportasi umum yg makin diperbaiki kondisinya, dipermudah dan dipernyaman aksesnya. bukannya memanjakan mobil2 pribadi. tapi sayangnya proyek2 ke arah perbaikan fasilitas umum malah mandeg terus, dan dalam pelaksanaannya jebol sana-sini. human error? atau masalah pilihan teknologi? policy? |
 | sutops wrote on Nov 22, '05, edited on Nov 24, '05 sebagai penggguna bis jakarta-bandung bertahun2, saya merasakan sendiri bagaimana semrawutnya sistem transportasi kita. setelah kecelakaan bis kramat jati yg terbakar di jagorawi tahun 96 itu, sampe skr saya tidak mau naik bis lagi, apalagai yg namanya kramat jati.  sebagai penggguna bis (nyaris mingguan) bogor-bandung saya selalu berbekal palu di dlm ransel saya. ada memang tulisan di kaca "pecahkan kaca dalam keadaan darurat". tp saya tdk pernah lihat atau menemukan alat pemecahnya. terus dipecahkan pakai apa? tenaga dalam? tapi ndak papa kok. wong negara ini cukup dijalankan dengan simbol/semboyan. mungkin semboyannya yang cocok utk situasi ini spt "dengan semangat keselamatan tranportasi kita sukseskan gera'an memecahkan kaca dlm keadaan darurat". tdk perlu alat pemecahnya. cukup semboyannya saja...
|
| |