 Pada level tertentu, angka statistik dapat membantu kita dalam menentukan kebijakan publik. Tetapi, sejarah sains menunjukkan bahwa angka bukanlah tanpa masalah. Angka adalah representasi dari suatu realitas yang terbentuk dari pemaknaan suatu besaran yang didapat dari observasi empiris. Artinya, ada proses interpretasi realitas melalui perangkat simbolik yang digunakan untuk mengonstruksi sebuah "fakta". Secara etimologis, kata "fakta" atau "fact" merujuk pada sebuah kata Yunani yang berarti "membuat". Jadi, fakta bukanlah lahir dari sesuatu yang konkret dan objektif yang berada di luar pengamatan manusia, melainkan terbentuk dari proses imajinatif atas suatu realitas. Konsekuensinya, fakta dan realitas adalah dua entitas yang berbeda. Jika realitas adalah objek yang diobservasi dan berada di luar imajinasi manusia, fakta berada di domain nalar manusia. Dengan demikian, angka sebagai simbolisasi dari fakta tidaklah menempel langsung pada realitas, melainkan terbentuk melalui mediasi proses nalar manusia yang subjektif dan penuh dengan bias sosial. baca lengkap
 | "Coba kita tengok perempatan-perempatan jalan kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Medan. Apakah para pengemis sudah berkurang atau semakin banyak? Realitas ada di sudut-sudut itu, bukan di atas kertas." so, yang ini juga setipe ama 'political statistics'nya SBY juga deh hehehe. menurut gue, semua penilaian itu relatif, sudut pandangnya yang orang kadang tidak jelaskan.....emang susah sih.....gimana kabar ? |
 | pak asoooo apakabarr siiih? ih im doing my dissertation nihh, sepertinya tidak lengkap tanpa diskusi malam dengan pak dosen hueeeeh |
 | Gua setuju So!.. terlepas dari political statistics.. hal ini terjadi juga di media, OK lebih spesifik gua berani sebut media televisi. Saat ini semua mata bisnis tertuju pada satu fakta sebagai "penentu harga" sebuah program, yaitu RATING.
Mereka seperti menutup mata, bahwa nilai jual sebuah program TV bisa dihitung lewat rating, yang mereka lakukan dengan cara statistik juga. Padahal gua bisa menyebutkan kelemahan2 cara statistik ini. Sayangnya.. business is business... gak mau terusik. Tapi gua yakin cepat atau lambat ini akan mengalami perubahan. |
 | Cagii.. kamu lagi bikin desertasi ttg apa??? cerita2 dong |
 | cagi wrote on Sep 2, '06, edited on Sep 2, '06 aduhh tul, mau cerita disini gak enak page nya aso, numpang yah so, tapi intinya, sebenrnya topiknya bikin males bgt, gw udah mencoba sekuat tenaga melepaskan diri dari tetek bengek teori2 politik yang gw bilang sih one dimensional bgt. gw mengkritik demokrasi itu sendiri, jadi demokrasi itu banyak paradoxnya sebagai kata dan implementasi, jadi ceritanya tentang pengamatan gw terhadap cara hidup sehari hari org indonesia, semua society itu tanpa demos dan kratos dari yunani, secara tidak langsung menjalani hari2nya dengan cara yang paling demokratik, utk hidup kaya misalnya ama tetangga, di pasar, dan lain lain. yang akhirnya jadi distinction antara pemerintah dan masyarakat (pemerintah fasis, waduk tukang korupsi, misalnya). nah pengetahuan inilah yang disebut subjugated knowledge, demokrasi dibajak sama si demos kratos nya yunani atau liberal demokrasinya amerika yang jadi hegemoni, resultnya: kita tidak bisa bilang suatu negara itu masyarakatnya tidak demokratik. lalu....ahh panjang ahhhh... gitu deh intinya politikmah garing dan busuk dan ngapain cape2 diurusin.. tul gw mah sekolah teh bagian dari proses kesenian gw (alah kamana kesenian) ini mah eksperimen aja bisa gak sih gw teh pindah jurusan...hhuehuuahuehue |
 | wah pak doktor nulis lagi.. siap2 di[panggil istana hehe |
 | angka kemiskinan "palsu", sebagai alat politik? Hmm, apa kita juga makan nasi "palsu", minum susu "palsu", beli minyak "palsu", tinggal dirumah beratap genting "palsu'? sambil tersenyum "palsu". |
 | walah ... jangan2 pengemis2 di perempatan2 tsb malah lebih kaya/pendapatannya lebih besar daripada sebagian dosen ITB ... |
 | kupple: tawaran gw simpel, realitas itu jamak. kepentinganlah yang membuatnya tunggal. cagi: ayoh atuh ngopi di bandung sambil ngobrolin disertasimu... motul: betul sekali, rating itu membuat orang2 tv terjebak dalam mainstream yang palsu: maksudnya dipanggil istana bbm kali ya hehehehe...kapan nih bang letif muncul di layar kaca kayak pak teguh tv7? rostati: kalo makan mah yang asli aja...hehehe leontiev: bisa jadi....pertanyaanya, kok ngemis bisa jadi penghasilan ya?
|
 | merlyna wrote on Sep 6, '06, edited on Sep 6, '06 hayooooo salahnya para peneliti juga (ngga semua, beberapa) yg suka make statistik untuk validasi kebenaran...:)) eh, gimana kabar ITB, So? |
 | ITB lagi sibuk bongkar sana sini teu puguh....heheheh |
 | dalam rangka ngabisin budget?? :D |
 | teija wrote on Sep 12, '06, edited on Sep 12, '06 Salut tulisan Pak Aso :) Seperti dalam film Matrix, mungkin realita itu ternyata hanya seputar persepsi di kepala manusia aja ya. Kayak kita ngotot bahwa capcai yang digoreng Bu Pembantu terlalu pedas, sementara buat Ibu itu sama sekali nggak pedas. Pemerintah melihat pengemis-pengemis di jalanan dan perempatan bukan sebagai masalah tetapi sebagai pemandangan. Menurut rakyat itu masalah yang besar, menurut pemerintah itu pemandangan kota yang biasa saja. Tidak lupa, kita kan punya budaya "maklum". Misalnya juga sikap munafik para pembesar yang membual tentang persamaan hak yang mereka junjung, sementara di rumahnya mereka "memelihara" pembantu rumah tangga yang bekerja kayak babi 16 jam sehari 7 hari seminggu tanpa hak libur atau bisa menikmati weekend dengan keluarga masing2. Persamaan hak ya persamaan hak, tapi pembantu kan tetap pembantu, diperlukan banget, maklumlah... (demikianlah persamaan hak di Indonesia tidak pernah akan tercapai sampai para pembantu RT bisa diperlakukan selayak karyawan). Eh, balik lagi soal persepsi jadi inget kisah pemulung yang baru2 ini mati tertimbun sampah, persepsi orang-orang yang berwenang: aktivitas mereka menantang maut, sementara menurut pemulung: gunungan sampah itu adalah nasi dan lauk pauk yang mereka makan untuk bisa bernafas. 235 juta kepala manusia di Indonesia persepsinya bermacam2, walaupun diwakilkan akhirnya tergantung siapa yang "berhak" mengklaim fakta tentang sesuatu. Mudah-mudahan soal angka kemiskinan kita nggak buang waktu mempermasalahkan besarannya tapi mengedepankan pengentasannya. |
 | teija wrote on Sep 12, '06 wah sebetulnya topik itu bagus.. mungkin kamu perlu mengkaji "konsep demokrasi" versi kerajaan Indonesia lama.. kayak kraton-kraton gitu. Eh iya lupa ini page nya Aso khekhkehe...  Wah iya, setuju sama kang Motul! Pola kehidupan masyarakat Indonesia di masa kerajaan2. Indonesianya kan baru 65 tahunan ada, sementara banyak masyarakat nggak tahu betul apa yang pernah ada diatas tanah yang kita injak ini (di Indonesia) misalnya saja 200 tahun yg lalu, karena jarang ada yang mau nulis tentang itu ... (milih gampang aja, nerima catatan arsip Belanda, beres). Kehidupan dan struktur sosial di nusantara pada masa lampau pasti menarik sekali! Ya ini juga tentu masuk dalam kaitannya dengan kondisi kita sekarang ... Salam. |
 | teija wrote on Sep 12, '06 aduhh tul, mau cerita disini gak enak page nya aso, numpang yah so, tapi intinya, sebenrnya topiknya bikin males bgt, gw udah mencoba sekuat tenaga melepaskan diri dari tetek bengek teori2 politik yang gw bilang sih one dimensional bgt. gw mengkritik demokrasi itu sendiri, jadi demokrasi itu banyak paradoxnya sebagai kata dan implementasi, jadi ceritanya tentang pengamatan gw terhadap cara hidup sehari hari org indonesia, semua society itu tanpa demos dan kratos dari yunani, secara tidak langsung menjalani hari2nya dengan cara yang paling demokratik, utk hidup kaya misalnya ama tetangga, di pasar, dan lain lain. yang akhirnya jadi distinction antara pemerintah dan masyarakat (pemerintah fasis, waduk tukang korupsi, misalnya). nah pengetahuan inilah yang disebut subjugated knowledge, demokrasi dibajak sama si demos kratos nya yunani atau liberal demokrasinya amerika yang jadi hegemoni, resultnya: kita tidak bisa bilang suatu negara itu masyarakatnya tidak demokratik. lalu....ahh panjang ahhhh... gitu deh intinya politikmah garing dan busuk dan ngapain cape2 diurusin.. tul gw mah sekolah teh bagian dari proses kesenian gw (alah kamana kesenian) ini mah eksperimen aja bisa gak sih gw teh pindah jurusan...hhuehuuahuehue  Hallo Cagi. Sedikit berbeda, menurutku politik itu nggak garing dan busuk, seperti matematika atau gunting, hanya alat untuk menyampaikan pikiran dan menggoalkan tujuan. Yang busuk mah orang2 yang memakainya. Misalnya si itu .."bip" dan si itu "bip" ... Biasanya kita memandang politik sebagai obyek yang geuleuh, tapi sebenernya itu karena kita belum punya kepentingan aja. Kita mau gak mau pasti akan menggunakannya ketika kaki kita sakit diinjak orang. :D |
| |